Meski istilah itu lahir dari konteks zamannya, substansinya tetap relevan, yaitu Ansor harus menjadi garda terdepan menjaga ideologi, keutuhan bangsa, dan nilai Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah.
Selain menekankan khidmah, KH Chalwani mengajak kader memperkuat amalan spiritual. Ia membagikan pengalaman pribadi saat muda mengikuti festival pidato.
Alih-alih diberi strategi teknis, KH Yasin justru mengajarkan doa Nabi Musa : ‘Rabbishrahli shadri, wa yassirli amri, wahlul ‘uqdatan mil lisani yafqahu qawli’. Doa ini dianjurkan dibaca tiga kali setiap selesai salat fardu agar hati dilapangkan, urusan dimudahkan, dan perkataan dipahami masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Bukan soal menang atau kalah, tapi orang mau mendengarkan. Dan itu terbukti, pidato saya diterima, sampai sekarang terus diundang ke berbagai daerah, bahkan luar negeri,” ungkapnya.
Menurutnya, jika kader istiqamah mengamalkan doa tersebut, program Ansor akan lebih mudah diterima masyarakat luas.
KH Chalwani juga menyoroti peran santri bertarekat dalam sejarah perjuangan bangsa. Ia mengutip pernyataan seorang profesor Belanda yang menyebut pemerintah kolonial paling takut pada santri yang telah bertarekat.
“Santri yang sudah thariqah itu paling berani melawan penjajah,” ujarnya, seraya mencontohkan Pangeran Diponegoro sebagai figur santri bertarekat yang menjadi simbol perlawanan.
Penulis : Adi
Editor : A. Nandar
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya

















