“Tradisi ini merupakan peninggalan para leluhur yang harus kita jaga bersama. Merti Desa dilaksanakan dua kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Muharram dan bulan Syakban dalam kalender Hijriah. Tujuannya sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus penghormatan kepada para pendahulu yang telah membuka dan membangun desa ini,” ujar Sujatmiko.
Menurutnya, keunikan tradisi ini terletak pada keterlibatan warga dari desa lain. Kegiatan ini turut dihadiri masyarakat Dusun Kuniran, Desa Prigelan. Hubungan ini berakar dari sejarah panjang antarkedua wilayah.
Secara historis, leluhur warga Dusun Kuniran turut dimakamkan di lokasi tersebut. Karena itu, warga Dusun Kuniran selalu hadir setiap pelaksanaan Merti Desa berlangsung.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ini bukan hanya tradisi masyarakat Kaliwatubumi, tetapi juga menjadi tradisi bersama dengan warga Dusun Kuniran, Desa Prigelan. Karena secara sejarah, kasepuhan mereka juga berada di makam ini. Maka setiap pelaksanaan Merti Desa, mereka selalu ikut hadir dan berpartisipasi,” jelas Sujatmiko.
Sujatmiko menambahkan, Makam Kasepuhan Kaliwatubumi kini menjadi destinasi wisata religi Purworejo. Banyak peziarah datang dari berbagai daerah untuk berdoa. Mereka juga tertarik mengenal sejarah perkembangan wilayah tersebut.
Selain makam kasepuhan, kawasan ini menyimpan nilai sejarah tinggi. Di bagian belakang kompleks masih terdapat peninggalan lingga bersejarah. Situs ini menjadi bukti peradaban masa lampau di kawasan tersebut.
Pemerintah desa bersama masyarakat terus menjaga kelestarian kawasan makam dan situs sejarah. Upaya ini bertujuan mengenalkan warisan tersebut kepada generasi muda dan pengunjung.
Penulis : M. Niam
Editor : A. Nandar
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya











