Guna meningkatkan kemampuannya, Javas bergabung dengan Sanggar Mekarsari di bawah bimbingan Ki Sunarko. Bersama sang guru, ia tercatat telah tampil sebanyak enam kali dengan iringan gamelan secara lengkap.
Dalam setiap pementasan, Javas paling mahir membawakan karakter Buto Ijo. Ia mampu memperagakan ekspresi serta gerakan tokoh tersebut secara apik.
Dhian berharap ketertarikan anaknya dapat terus berlanjut. Langkah tersebut diharapkan mampu menjadi sarana menjaga warisan budaya bangsa.
“Kami berharap Javas terus rendah hati, rajin belajar, dan mampu menjadi dalang yang membanggakan. Semoga apa yang dilakukan hari ini bisa menginspirasi anak-anak lain agar mencintai budaya Indonesia sejak dini. Kalau bukan generasi muda yang menjaga budaya, lalu siapa lagi?” ucap Dhian.
Bagi Javas, pewayangan bukan sekadar sarana hiburan semata. Seni pedalangan menjadi wadah belajar nilai keberanian, kejujuran, kebijaksanaan, serta penghormatan terhadap tradisi leluhur.
Kehadiran sosok dalang cilik ini membuktikan bahwa pelestarian tradisi dapat berawal dari rumah. Dukungan orang tua dan lingkungan menjadi kunci utama keberlanjutan seni wayang di masa depan.
Penulis : A.L. Khakim
Editor : A. Nandar
Halaman : 1 2







