PURWOREJO – Di tengah hiruk-pikuk pergantian tahun 2025, dentum terompet tradisional kian jarang terdengar. Bagi Budi Kurniawan (52), warga Desa Baledono, Kecamatan Purworejo, hal ini menjadi kenyataan pahit yang harus dihadapi setiap akhir Desember.
Selama lebih dari tiga dekade, Budi menggantungkan hidup dari membuat dan menjual terompet khas Tahun Baru. Namun, sejak beberapa tahun terakhir, penjualan kian merosot tajam. Ia bercerita, pernah menghabiskan modal hingga Rp15 juta, tetapi hasil penjualan tak mampu menutupi ongkos produksi.
“Pernah nombok besar. Dagangan nggak laku sama sekali,” kisah Budi saat ditemui di lapak sederhana miliknya, Senin (29/12/2025).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meski pernah gagal total, Budi tak menyerah begitu saja. Awal 2025, ia kembali memulai usaha dari nol. Dengan modal Rp2 juta, ia memproduksi sekitar 200 buah terompet buatan tangan, dijual dengan harga Rp10 ribu per buah.
Sayangnya, hingga sore hari di penghujung Desember, belum satu pun terompet berpindah tangan. Menurutnya, menurunnya minat masyarakat tak lepas dari perubahan gaya hidup dan kemajuan teknologi.
“Sekarang orang lebih senang main HP. Hiburan semua di situ. Terompet sudah jarang dicari,” ujarnya.
Setia pada Tradisi, Jauh dari Politik
Budi menegaskan, terompet buatannya murni untuk hiburan pergantian tahun, bukan untuk kepentingan politik atau keagamaan.
Penulis : A.L. Khakim
Editor : A. Nandar
Halaman : 1 2 Selanjutnya

















