Menurut penjelasan beliau, panggilan ibadah haji tersebut datang pada tahun dua ribu enam belas. Jadi, ia merasa sangat bersyukur atas berkah melimpah tersebut.
“Saya sudah terbiasa menganyam sejak masih muda. Sampai sekarang masih saya kerjakan karena ini juga menjadi mata pencaharian warga sekitar,” tutur Komsiyah.
Namun, ujian berat sempat melanda kehidupan Komsiyah menjelang keberangkatan haji. Sang suami tercinta meninggal dunia mendahuluinya karena faktor kesehatan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kehilangan tersebut tentu mendatangkan rasa sedih yang sangat mendalam. Oleh sebab itu, ia terpaksa berangkat ibadah tanpa sempat mengikuti manasik secara lengkap.
Komsiyah tetap melanjutkan niat suci tersebut usai menyelesaikan masa idah. Ia percaya penuh bahwa takdir kehidupan merupakan kehendak terbaik dari Sang Pencipta.
Jangkauan Pasar Luas hingga Luar Daerah
Kini Komsiyah bertindak sebagai bandar sekaligus pengrajin yang mandiri. Ia sukses menyediakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.
Faktanya, banyak pedagang dari wilayah Yogyakarta datang langsung ke rumahnya. Para pelanggan dari Kendal juga rutin mengambil pasokan anyaman dalam jumlah besar.
Kualitas anyaman yang rapi menjadi alasan utama para pembeli tetap setia. Pelanggan dapat memesan ukuran anyaman sesuai dengan kebutuhan bangunan masing-masing.
Selain itu, almarhum suaminya ternyata masih memiliki hubungan kerabat dekat dengan ulama besar. Keluarga ini merupakan sepupu dari almagfurlah KH. Toifur Mawardi.
Semasa hidup, ulama karismatik tersebut sering berkunjung saat momentum lebaran. Kedekatan ini menjadi cerita hangat yang terus membekas di hati keluarga besar.
Komsiyah membuktikan bahwa ketekunan mampu membawa keberkahan hidup yang nyata. Kehadiran Perajin Anyaman Bambu Purworejo ini menjadi inspirasi bersama bagi generasi muda.
Penulis : A.L. Khakim
Editor : A. Nandar
Halaman : 1 2

















