Menurut Wasit, penanganan kekeringan kini semakin responsif dan tidak berbelit. Desa yang kekurangan air cukup melapor kepada BPBD. Tim Reaksi Cepat kemudian melakukan asesmen sebelum bantuan dikirimkan ke lokasi.
Selain krisis air, musim kemarau panjang turut meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. BPBD karena itu menggelar rapat koordinasi bersama Polres Purworejo, Kodim 0708/Purworejo, dan Perhutani. Instansi lain yang dilibatkan meliputi PMI, Satpol PP, serta Dinas Pertanian.
Koordinasi tersebut berfokus pada penguatan sistem peringatan dini dan pembentukan posko siaga. Langkah lain mencakup peningkatan patroli kawasan rawan kebakaran serta penyusunan prosedur penanganan darurat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Wilayah rawan kekeringan di Purworejo meliputi Kecamatan Bagelen, Kaligesing, Gebang, dan Bruno. Meski demikian, Wasit menyebut jumlah desa krisis air cenderung menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Penurunan ini didorong pembangunan sarana Pamsimas di berbagai wilayah.
Kendati begitu, sejumlah desa dengan sumber air alami terbatas tetap membutuhkan bantuan saat kemarau berkepanjangan. BPBD juga mengingatkan warga menjaga kesehatan selama cuaca ekstrem berlangsung.
Masyarakat diminta menghemat penggunaan air serta memperbanyak konsumsi air minum. Warga juga diimbau mengurangi aktivitas di bawah terik matahari tanpa keperluan mendesak. Kewaspadaan terhadap potensi kebakaran turut menjadi perhatian bersama.
Kebakaran sering dipicu kelalaian, seperti membakar sampah tanpa pengawasan. Membuang puntung rokok sembarangan di kawasan kering juga meningkatkan risiko kebakaran. Wasit menekankan pentingnya partisipasi seluruh elemen masyarakat.
Penulis : A.L. Khakim
Editor : A. Nandar
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya











