PURWOREJO, DiengPost.com – Di balik gencarnya upaya pemerintah memperluas akses listrik hingga ke pelosok negeri, tersimpan kisah masa kecil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang tumbuh dalam keterbatasan tanpa aliran listrik.
Cerita tersebut diungkapkan Bahlil saat berdialog dengan masyarakat penerima manfaat program kelistrikan di Kabupaten Purworejo, Jumat (19/6/2026). Di hadapan warga, ia mengenang masa kecilnya di Papua yang jauh dari akses listrik dan berbagai fasilitas penunjang kehidupan.
Bahlil mengaku baru merasakan listrik saat duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. Sebelum itu, aktivitas belajar pada malam hari harus dilakukan dengan penerangan seadanya menggunakan lampu pelita.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya juga lahir tidak ada listrik. Saya SD kelas 6 baru ada listrik. Belajarnya pakai lampu pelita,” ujarnya.
Pengalaman tersebut menjadi alasan mengapa dirinya menaruh perhatian besar terhadap pemerataan akses energi di Indonesia. Menurutnya, listrik bukan sekadar soal penerangan, tetapi juga menyangkut akses pendidikan, kesehatan, informasi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Ia menuturkan, kehidupan tanpa listrik membuat berbagai aktivitas dasar menjadi jauh lebih sulit. Bahkan pelayanan kesehatan di sejumlah daerah terpencil pada masa itu masih mengandalkan penerangan tradisional saat menangani pasien.
“Kalau orang melahirkan dan tidak dibawa ke rumah sakit, penerangannya hanya lampu pelita atau petromaks. Risikonya besar sekali,” katanya.
Penulis : Hamdan A.
Editor : A. Nandar
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya











