Dari Anak Kampung Tanpa Listrik hingga Menteri ESDM, Kisah Bahlil di Balik Program Listrik Desa

- Penulis

Sabtu, 20 Juni 2026 - 18:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

i

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

PURWOREJO, DiengPost.com – Di balik gencarnya upaya pemerintah memperluas akses listrik hingga ke pelosok negeri, tersimpan kisah masa kecil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang tumbuh dalam keterbatasan tanpa aliran listrik.

Cerita tersebut diungkapkan Bahlil saat berdialog dengan masyarakat penerima manfaat program kelistrikan di Kabupaten Purworejo, Jumat (19/6/2026). Di hadapan warga, ia mengenang masa kecilnya di Papua yang jauh dari akses listrik dan berbagai fasilitas penunjang kehidupan.

Baca Juga:  Periksa 48 Saksi, Kasus Korupsi Mini Zoo Purworejo Masih Terus Dikembangkan

Bahlil mengaku baru merasakan listrik saat duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. Sebelum itu, aktivitas belajar pada malam hari harus dilakukan dengan penerangan seadanya menggunakan lampu pelita.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Saya juga lahir tidak ada listrik. Saya SD kelas 6 baru ada listrik. Belajarnya pakai lampu pelita,” ujarnya.

Pengalaman tersebut menjadi alasan mengapa dirinya menaruh perhatian besar terhadap pemerataan akses energi di Indonesia. Menurutnya, listrik bukan sekadar soal penerangan, tetapi juga menyangkut akses pendidikan, kesehatan, informasi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga:  Rejowinangun Cup 2026 Bergulir, DPRD Jateng Amir Masduki Dorong Lahirnya Bibit Pesepak Bola Berbakat

Ia menuturkan, kehidupan tanpa listrik membuat berbagai aktivitas dasar menjadi jauh lebih sulit. Bahkan pelayanan kesehatan di sejumlah daerah terpencil pada masa itu masih mengandalkan penerangan tradisional saat menangani pasien.

“Kalau orang melahirkan dan tidak dibawa ke rumah sakit, penerangannya hanya lampu pelita atau petromaks. Risikonya besar sekali,” katanya.

Penulis : Hamdan A.

Editor : A. Nandar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel purworejo.diengpost.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Komunitas Teater Purworejo Sukses Pentaskan Lakon Orang Kasar Karya Anton Chekhov
Santunan Anak Yatim ke-30 di Kalikotes Purworejo Salurkan Rp25,8 Juta untuk Puluhan Anak
Harlah ke-20 PPDI Kabupaten Purworejo, Bupati Siapkan Alokasi Gaji ke-13 Perangkat Desa
SMK Ma’arif NU 02 Kemiri Bersholawat, Peringati Satu Dasawarsa dan Lepas 70 Siswa Kelas XII
Sukses Sedot Perhatian Warga, Pawai Ta’aruf Ponpes Daarut Tauhied 8 Kemiri Jadi Media Syiar Pendidikan
Kukuhkan Tiga Pilar Utama, STAINU Purworejo Fokus Optimalkan Jaringan Alumni dan Kepemimpinan Mahasiswa
Gelar Pelantikan Pengurus Baru IKA STAINU Purworejo, Pererat Hubungan Alumni dan NU
Bahlil: Layani Desa Terpencil Tak Selalu Menguntungkan, Tapi Negara Wajib Hadir

Berita Terkait

Minggu, 21 Juni 2026 - 19:36 WIB

Komunitas Teater Purworejo Sukses Pentaskan Lakon Orang Kasar Karya Anton Chekhov

Minggu, 21 Juni 2026 - 19:27 WIB

Santunan Anak Yatim ke-30 di Kalikotes Purworejo Salurkan Rp25,8 Juta untuk Puluhan Anak

Minggu, 21 Juni 2026 - 18:00 WIB

Harlah ke-20 PPDI Kabupaten Purworejo, Bupati Siapkan Alokasi Gaji ke-13 Perangkat Desa

Minggu, 21 Juni 2026 - 08:20 WIB

SMK Ma’arif NU 02 Kemiri Bersholawat, Peringati Satu Dasawarsa dan Lepas 70 Siswa Kelas XII

Sabtu, 20 Juni 2026 - 22:54 WIB

Sukses Sedot Perhatian Warga, Pawai Ta’aruf Ponpes Daarut Tauhied 8 Kemiri Jadi Media Syiar Pendidikan

Berita Terbaru