Dari Anak Kampung Tanpa Listrik hingga Menteri ESDM, Kisah Bahlil di Balik Program Listrik Desa

- Penulis

Sabtu, 20 Juni 2026 - 18:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

i

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

Bahlil menegaskan bahwa negara memiliki kewajiban menghadirkan layanan dasar bagi seluruh rakyat tanpa terkecuali. Karena itu, akses listrik tidak boleh hanya dinikmati masyarakat perkotaan, melainkan juga warga desa, dusun, kawasan pegunungan, hingga daerah kepulauan.

Berdasarkan data pemerintah, hingga saat ini masih terdapat sekitar 5.700 desa dan 4.400 dusun di Indonesia yang belum menikmati layanan listrik secara optimal. Kondisi tersebut tidak hanya ditemukan di wilayah timur Indonesia, tetapi juga masih dijumpai di sejumlah daerah di Pulau Jawa.

Baca Juga:  Periksa 48 Saksi, Kasus Korupsi Mini Zoo Purworejo Masih Terus Dikembangkan

“Ini sebagai potret bahwa listrik itu tidak hanya milik orang kota. Di daerah Jawa yang dekat dengan Jakarta pun masih ada kondisi seperti ini,” ungkapnya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah terus memperluas Program Listrik Desa (Lisdes). Pada tahun 2025, program tersebut telah menjangkau sekitar 1.361 desa dan dusun dengan dukungan anggaran Rp3,6 triliun. Sementara pada tahun 2026, alokasi anggaran ditingkatkan menjadi sekitar Rp10,3 triliun guna mempercepat pemerataan akses listrik nasional.

Baca Juga:  Rejowinangun Cup 2026 Bergulir, DPRD Jateng Amir Masduki Dorong Lahirnya Bibit Pesepak Bola Berbakat

Meski demikian, Bahlil mengakui pembangunan jaringan listrik di wilayah terpencil sering kali tidak menguntungkan secara bisnis. Investasi yang dibutuhkan untuk melayani puluhan kepala keluarga bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Namun menurutnya, pelayanan publik tidak bisa semata-mata dihitung berdasarkan keuntungan ekonomi.

“Pemerintah membangun tidak boleh berhitung bisnis. Tugas negara adalah melayani rakyat,” tegasnya.

Penulis : Hamdan A.

Editor : A. Nandar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel purworejo.diengpost.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Komunitas Teater Purworejo Sukses Pentaskan Lakon Orang Kasar Karya Anton Chekhov
Santunan Anak Yatim ke-30 di Kalikotes Purworejo Salurkan Rp25,8 Juta untuk Puluhan Anak
Harlah ke-20 PPDI Kabupaten Purworejo, Bupati Siapkan Alokasi Gaji ke-13 Perangkat Desa
SMK Ma’arif NU 02 Kemiri Bersholawat, Peringati Satu Dasawarsa dan Lepas 70 Siswa Kelas XII
Sukses Sedot Perhatian Warga, Pawai Ta’aruf Ponpes Daarut Tauhied 8 Kemiri Jadi Media Syiar Pendidikan
Kukuhkan Tiga Pilar Utama, STAINU Purworejo Fokus Optimalkan Jaringan Alumni dan Kepemimpinan Mahasiswa
Gelar Pelantikan Pengurus Baru IKA STAINU Purworejo, Pererat Hubungan Alumni dan NU
Bahlil: Layani Desa Terpencil Tak Selalu Menguntungkan, Tapi Negara Wajib Hadir

Berita Terkait

Minggu, 21 Juni 2026 - 19:36 WIB

Komunitas Teater Purworejo Sukses Pentaskan Lakon Orang Kasar Karya Anton Chekhov

Minggu, 21 Juni 2026 - 19:27 WIB

Santunan Anak Yatim ke-30 di Kalikotes Purworejo Salurkan Rp25,8 Juta untuk Puluhan Anak

Minggu, 21 Juni 2026 - 18:00 WIB

Harlah ke-20 PPDI Kabupaten Purworejo, Bupati Siapkan Alokasi Gaji ke-13 Perangkat Desa

Minggu, 21 Juni 2026 - 08:20 WIB

SMK Ma’arif NU 02 Kemiri Bersholawat, Peringati Satu Dasawarsa dan Lepas 70 Siswa Kelas XII

Sabtu, 20 Juni 2026 - 22:54 WIB

Sukses Sedot Perhatian Warga, Pawai Ta’aruf Ponpes Daarut Tauhied 8 Kemiri Jadi Media Syiar Pendidikan

Berita Terbaru