12 Sep 2026
instagram youtube tiktok linkedin pinterest

12 Sep 2026

Dari Anak Kampung Tanpa Listrik hingga Menteri ESDM, Kisah Bahlil di Balik Program Listrik Desa

- Penulis

Sabtu, 20 Juni 2026 - 18:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

i

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

Bahlil menegaskan bahwa negara memiliki kewajiban menghadirkan layanan dasar bagi seluruh rakyat tanpa terkecuali. Karena itu, akses listrik tidak boleh hanya dinikmati masyarakat perkotaan, melainkan juga warga desa, dusun, kawasan pegunungan, hingga daerah kepulauan.

Berdasarkan data pemerintah, hingga saat ini masih terdapat sekitar 5.700 desa dan 4.400 dusun di Indonesia yang belum menikmati layanan listrik secara optimal. Kondisi tersebut tidak hanya ditemukan di wilayah timur Indonesia, tetapi juga masih dijumpai di sejumlah daerah di Pulau Jawa.

Baca Juga:  Periksa 48 Saksi, Kasus Korupsi Mini Zoo Purworejo Masih Terus Dikembangkan

“Ini sebagai potret bahwa listrik itu tidak hanya milik orang kota. Di daerah Jawa yang dekat dengan Jakarta pun masih ada kondisi seperti ini,” ungkapnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah terus memperluas Program Listrik Desa (Lisdes). Pada tahun 2025, program tersebut telah menjangkau sekitar 1.361 desa dan dusun dengan dukungan anggaran Rp3,6 triliun. Sementara pada tahun 2026, alokasi anggaran ditingkatkan menjadi sekitar Rp10,3 triliun guna mempercepat pemerataan akses listrik nasional.

Baca Juga:  Rejowinangun Cup 2026 Bergulir, DPRD Jateng Amir Masduki Dorong Lahirnya Bibit Pesepak Bola Berbakat

Meski demikian, Bahlil mengakui pembangunan jaringan listrik di wilayah terpencil sering kali tidak menguntungkan secara bisnis. Investasi yang dibutuhkan untuk melayani puluhan kepala keluarga bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Namun menurutnya, pelayanan publik tidak bisa semata-mata dihitung berdasarkan keuntungan ekonomi.

“Pemerintah membangun tidak boleh berhitung bisnis. Tugas negara adalah melayani rakyat,” tegasnya.

Penulis : Hamdan A.

Editor : A. Nandar

Follow WhatsApp Channel purworejo.diengpost.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Warga Kaliurip Geger, King Cobra Masuk Rumah Langsung Dievakuasi Damkar
Dengar Letupan dari Dapur, Supriyanti Selamatkan Ayah Saat Rumahnya Terbakar
Bangun Kebersamaan, PC PMII Purworejo Satukan Lintas Organisasi Lewat Futsal
Bupati Yuli Hastuti Serahkan Bantuan Korban Kebakaran Rumah di Jatiwangsan
Pererat Silaturahmi, Anggota DPRD Purworejo Much Dahlan Hadiri Pengajian Maulid Nabi di Kaligesing
RSUD dr. Tjitrowardojo Purworejo Gelar Khitan Massal Gratis Bagi Puluhan Anak
Gandeng UTP Malaysia, PP Darul Arqom Gelar Bengkel STEM Internasional
Sukses Dibangun, Warga Prigelan Purworejo Gelar Syukuran Pembangunan Jalan Usaha Tani

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 06:39 WIB

Warga Kaliurip Geger, King Cobra Masuk Rumah Langsung Dievakuasi Damkar

Sabtu, 12 September 2026 - 06:34 WIB

Dengar Letupan dari Dapur, Supriyanti Selamatkan Ayah Saat Rumahnya Terbakar

Sabtu, 5 September 2026 - 15:32 WIB

Bangun Kebersamaan, PC PMII Purworejo Satukan Lintas Organisasi Lewat Futsal

Sabtu, 5 September 2026 - 15:23 WIB

Bupati Yuli Hastuti Serahkan Bantuan Korban Kebakaran Rumah di Jatiwangsan

Sabtu, 5 September 2026 - 15:21 WIB

Pererat Silaturahmi, Anggota DPRD Purworejo Much Dahlan Hadiri Pengajian Maulid Nabi di Kaligesing

Berita Terbaru